Saling belajar dalam meningkatkan kualitas program pembangunan
dan bekerja sama menyelaraskan upaya pembangunan

Definisi musik yang diambil dari Wikipedia adalah adalah bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang. Musik menurut Aristoteles mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme. Oleh karena hal tersebut hampir semua manusia menyukai musik. Pada saat gundah, sedih bahkan senang, yang didengar oleh manusia adalah musik, tinggal selera musiknya saja berbeda-beda. Konon, ketika Kaisar Nero membakar Roma, ia memainkan biolanya, menikmati musik kesukaannya. Semua orang menyukai dan menikmati musik sebagai hiburan dan pelengkap dalam hidupnya. Di zaman serba maju seperti sekarang, ada banyak media yang bisa dipergunakan sebagai tempat untuk menyalurkan kreatifitas dan aspirasi sekaligus sebagai media hiburan dan komunikasi, salah satunya melalui musik. Musik merupakan bahasa universal yang dapat menciptakan segmen tersendiri bagi para penikmatnya tanpa mengenal perbedaan latar belakang suku, budaya, bahasa dan lain sebagainya.
Namun hal tersebut sangat jauh berbeda dengan kenyataan bila musik dihubungkan dengan masa depan dan cita cita seseorang. Musisi adalah jenis profesi bagi orang yang terjun dalam bidang musik. Banyak orang yang menjadikan musik sebagai hobby dan banyak pula yang menjadikan musik sebagai profesi. Namun, seringkali para musisi khususnya musisi indie dipandang sebelah mata dan kurang mendapatkan tempat di masyarakat sehingga seringkali mereka terpaksa memilih profesi lain yang lebih dianggap dan memiliki status sosial yang jelas di mata masyarakat. Profesi musisi sering menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Apalagi didukung dengan penilaian bahwa bekerja sebagai musisi tidak dianggap sebagai salah satu pekerjaan formal yang menjanjikan dan menghasilkan penghasilan tetap, terutama oleh orangtua yang cenderung tidak mendukung anaknya untuk berkecimpung di dunia musik.
Ambil saja contoh nyata dari salah satu band dengan genre rock-melayu yang berasal dari Bandung, ST12. Nama ST12 sendiri berasal dari nama Jalan Stasiun Timur No. 12 tempat mereka biasa berkumpul. Karir yang mereka bangun pun tidaklah mudah, penolakan, caci maki bahkan ditinggalkan oleh orang-orang yang mereka cintai, termasuk orang tua, mewarnai jatuh bangun ST12 dalam dunia musik. Hal senada hampir dialami juga oleh musisi Oppie Andaresta. "Kalau dulu di usia gue muda, mau jadi pemusik, orang-orang bilang ngapain sih jadi pemusik? Mau apa lu sama musik?” ujarnya seperti dikutip dari salah satu media online nasional. Tetapi baik ST12 maupun Oppie Andaresta melewati masa-masa itu dan akhirnya mereka suskes melawan itu semua.
Lalu sebut saja Leo namanya. Leo adalah seorang musisi amatir yang sedang berjuang agar musiknya diterima oleh masyarakat. Dalam perjuangannya Leo menghadapi banyak tantangan, tuntutan dari orang tua dan calon mertua agar mendapatkan pekerjaan yang tetap dan menjanjikan membuat Leo sedikit goyah. Di satu sisi Leo terus berjuang agar ia bisa sukses di profesinya sebagai musisi dan bergabung sebagai anggota tetap Band Tani Maju, tetapi di lain pihak untuk memenuhi tuntutan keluarga dan hidup akhirnya melakoni ’kerja sambilan’ sebagai guru. Sebenarnya Leo adalah tokoh dalam film “Musisi Mencari Status” karya Ary Agung Wibowo dan M. Leo Zainy. Film ini diputar di Kegiatan pemutaran film dan diskusi Cinematica dan BaKTI. Acara ini bertema “Musik & Realita Sosial”, diadakan pada tanggal 27 Juni 2011 di BaKTI, Jl. Dr. Soetomo No. 26 Makassar. Setiap bulan CINEMATICA bekerjasama dengan BaKTI untuk mengadakan acara diskusi dalam berbagai tema yang berhubungan dengan pembangunan dan masalah sosial yang sedang terjadi pada saat ini. Mengusung tema besar event BaKTI tahun ini, yaitu ”Berbagi untuk Perubahan”. Acara dilanjutkan dengan Live Performance oleh Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ), kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dengan Arfan Sabran dari Rumah Ide Makassar sebagai moderator.
Seorang peserta, Adel yang berprofesi sebagai musisi Jazz, berpendapat bahwa ada tekanan terhadap dunia yang disukai, apalagi orangtua yang tidak setuju bila mempunyai menantu seorang musisi. Menurut Adel, musisi tidak boleh dianggap sebelah mata karena banyak juga musisi yang berhasil dan mapan. Hanya musisi harus siap memulai dari nol dan harus kuat menghadapi realitas sosial yang ada, sebab bila digeluti dengan serius maka keinginan menjadi musisi sukses dapat diraih. Peserta diskusi lainnya, Winda berbagi pengalaman dengan peserta diskusi lainnya, bahwa sebenarnya ia sangat ingin menjadi musisi karena bisa memainkan satu alat musik, yaitu biola. Namun, orangtuanya tidak menyetujui rencananya dan menuntut Winda untuk melanjutkan pendidikan di jenjang S2. Hampir sama dengan Iko yang pekerjaannya adalah seorang penyiar radio, Ia menceritakan pengalamannya bukan hanya musisi saja, tetapi sebagai seorang penyiar radio, ia sering dicibir oleh orangtuanya sebab pekerjaan tersebut dinilai tidak menjanjikan sebab jadwal kerjanya tak tentu. Akhirnya ia mencari pekerjaan alternatif lain.
Seorang anggota KPJ bernama Rudi menceritakan awal mulanya terjun ke dunia musik dan bergabung dengan kawan-kawan KPJ. Rudi menjadi pengamen bersama kawan-kawannya di sekitar banteng Ford Rotterdam pada awal tahun 1990. Tahun 1996, Rudi dan teman-teman pindah ke taman Jl. Pramuka, setelah Pemerintah Kota Makassar memberikan tempat kepada penyanyi jalanan di tempat tersebut. Ia hanya menjalani kehidupan yang ada tanpa perlu mengkhawatirkan pendapat orang lain tentang profesi yang dipilihnya. Selain menjadi pemusik, ia merintis usaha lainnya, yaitu membuat usaha alternatif pembuatan aksesoris. Intinya Rudi dan bandnya tetap optimis dan terus berkarya dalam hal musik. Ketua KPJ, Lala menjelaskan bahwa pemusik yang sejati adalah tidak ragu dalam melangkah, tidak hanya sekedar hobi dan juga tidak boleh setengah hati dalam bermusik. Seorang pemusik juga sebaiknya memiliki pekerjaan sampingan, disamping konsisten menciptakan karya pada posisinya masing-masing. Menurut Lala, sejatinya setiap pemusik harus memiliki karya.
Musik seringkali dimaknai semata sebagai media hiburan, padahal dalam realitanya musik bisa juga merubah manusia. Sudah selayaknya profesi sebagai musisi yang mendalami musik perlu dihargai dan diberikan apresiasi. Seperti dikatakan Herbert Marcuse, musik memang tidak dapat mengubah dunia, tetapi musik mampu menyumbangkan satu perubahan kesadaran manusia. Dan pada gilirannya, manusia inilah yang mampu mengubah dunia.
© 2011 Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia

