Saling belajar dalam meningkatkan kualitas program pembangunan
dan bekerja sama menyelaraskan upaya pembangunan

Berita
 » BaKTI Event: Praktik Cerdas, Brigade Siaga Bencana Menjemput Pasien, Mendekatkan Layanan
BaKTI Event: Praktik Cerdas, Brigade Siaga Bencana Menjemput Pasien, Mendekatkan Layanan
, 29 July

Pada tanggal 29 July 2011, BaKTI mengadakan acara diskusi Praktik Cerdas dari Kabupaten Bantaeng dengan tema "Inovasi Kab. Bantaeng: Brigade Siaga Bencana, Layanan Cepat, Pasien Selamat"di Backyard BaKTI, Jl. Dro. Soetomo No. 26, Makassar. Hadir pada acara yang diadakan pada pukul 7 malam ini adalah Bupati Bantaeng  Bapak H.M. Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng), Kepala Dinas Kesehatan Kab. Bantaeng dan Koordinator BSB Kab. Bantaeng yang sekaligus menjadi narasumber untuk menjelaskan keberadaan Brigade Siaga Bencana. Di sela-sela acara diskusi, Sese Lawing menghibur para peserta acara dengan penampilan khasnya. Berikut adalah artikel mengenai Brigade Siaga Bencana yang ditulis oleh Achmad Syam seorang peneliti The Fajar Institute of Pro Otonomi (FIPO).

Brigade Siaga Bencana Menjemput Pasien, Mendekatkan Layanan

Siang yang terik,seorang dokter dan dua orang perawat bergegas menaiki ambulans. Laporan yang diterima melalui call center 113 menyebutkan terjadi kecelakaan lalu lintas dan korban butuh segera pertolongan. Sesaat kemudian, ambulans meraung dan meluncur ke lokasi kejadian.

Tidak seberapa lama ambulans kembali bersama korban, seorang siswi pada salah satu sekolah menengah umum. Berdasarkan hasil diagnosa dokter di lokasi kejadian korban tidak perlu dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit.  Dokter berkesimpulan korban cukup dirawat di ruang perawatan kantor Brigade Siaga Bencana (BSB).

Kesibukan seperti tergambar di atas bisa terjadi setiap waktu di kantor BSB: pagi, siang, ataupun larut malam. Demikian pula dengan jangkauan layanan bisa di wilayah mana saja: kota, desa, di laut, hingga di pemukiman masyarakat di ketinggianpun bisa untuk semua jenis keluhan masyarakat/pasien: dari korban kecelakaan lalu lintas, pasien karena sakit, hingga korban luka bakar pada kejadian kebakaran.

Terbentuk pada 7 Desember 2009 yang bertepatan dengan hari ulang tahun  Kabupaten Bantaeng ke-755, BSB bertujuan memberikan pelayanan kesehatan yang terdepan dan tercepat atas setiap bencana/musibah yang menimpa masyarakat. Keberadaan BSB diperlukan sebagai upaya kesiapsiagaan dalam penanggulangan setiap bencana/musibah terutama bagi korban yang membutuhkan pertolongan cepat namun jauh dari jangkauan dokter maupun terkendala sarana transportasi karena tidak memiliki kendaraan. Tahapan pembentukan atau persiapan pengoperasian BSB meliputi dua tahap.

Pertama, pengadaan peralatan dan sarana-prasarana seperti peralatan kesehatan dan kendaraan operasional atau ambulans. Saat ini BSB memiliki lima unit ambulans yang berasal dari Dinas Kesehatan Bantaeng (satu unit); bantuan dari Asuransi Kesehatan-Askes (satu unit); dan bantuan Pemerintah Jepang (tiga unit). Satu dari lima unit ambulans tersebut difasilitasi alat monitor pemeriksaan jantung modern, peralatan yang jarang dimiliki ambulans lainnya. Selain itu terdapat dua unit speedboat milik tim SAR yang sewaktu-waktu dapat digunakan tim BSB bila ada korban atau pasien di laut.

Kedua, peningkatan sumberdaya manusia yang meliputi pelatihan-pelatihan ketanggapdaruratan. Pelatihan bagi dokter adalah pelatihan general emergency life support  dan bagi perawat adalah pelatihan basic trauma cardiac life support. Kedua jenis pelatihan tersebut dimaksudkan untuk memberikan pengenalan dan pengetahuan bagi tenaga medis dalam hal penanganan tindak darurat.

Bagaimana BSB dijalankan?

Pelayanan BSB adalah layanan gratis selama duapuluh empat jam sehari dengan total staf sebanyak duapuluh dokter umum, delapan perawat dan empat pengemudi. Para dokter berasal dari puskesmas se-Kabupaten Bantaeng yang mana setiap puskesmas masing-masing mengirimkan dua dokter dan akan bertugas selama satu tahun. Setelah masa tugas satu tahun kedua orang dokter tersebut akan digantikan dokter lainnya dari puskesmas yang sama.

Seluruh staf tersebut di atas secara bergantian melaksanakan tugas harian yang terbagi dalam dalam tiga shift jaga yaitu pagi mulai dari jam 07.00 sampai dengan 14.30 Wita; siang jam 14.30 sampai 21.30 Wita; dan jam 21.30 sampai 07.00 Wita. Regu yang bersiaga terdiri dari seorang dokter, dua perawat, dan dua pengemudi.

Prosedur operasional standar yang diterapkan BSB mengarahkan laporan dari masyarakat yang masuk melalui call center 113  dan 0413-22724  serta melalui frekuensi radio 145.490 MHz untuk sesegera mungkin direspon oleh tim BSB dengan langsung menuju lokasi.

Di lokasi tim akan segera melakukan pemeriksaan untuk menentukan tindakan selanjutnya apakah cukup dirawat di rumah. Pemberian obat serta tetap melakukan pemantauan dengan berkoordinasi puskesmas terdekat, apakah pasien perlu dirujuk ke puskesmas/kantor BSB, ataukah pasien perlu dirujuk ke rumah sakit umum daerah (RSUD).

Standar tanggap bencana lainnya yang diberlakukan BSB yang berbeda dari daerah lainnya adalah pada kasus kejadian kebakaran. Bila di kabupaten/kota lainnya mobil pemadam kebakaran tidak beriringan dengan ambulans, di Bantaeng setiap ada laporan kebakaran maka dua unit ambulans wajib mengiringi mobil pemadam kebakaran untuk mengantisipasi adanya korban luka bakar. Kerjasama yang baik antara Tim BSB dan regu pemadam kebakaran dimungkinkan karena kantor BSB berada pada satu atap dengan layanan pemadam kebakaran. Tim BSB juga menyertakan tim medis saat bertugas mengatasi kebakaran yang terjadi di dua kabupaten terdekat, Bulukumba dan Jeneponto.

Struktur organisasi BSB sendiri sebagai Satuan Tugas (Satgas) Pelayanan Kesehatan berada di bawah Tim Emergency Service (TES) Kabupaten Bantaeng. Selain  BSB satgas lainnya yang dibawahi dan satu atap dalam TES adalah Satgas Pemadam Kebakaran, Satgas Bantuan Sosial, Perlengkapan dan Logistik, serta Satgas Operasi, Rehabilitasi dan Pemulihan. Tim ini dikoordinasi tiga dinas/instansi terkait yakni Dinas Kesehatan, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda), dan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Konsep TES yang memadukan beberapa jenis layanan publik seperti pemadam kebakaran dan layanan medis, serta layanan sosial dalam satu atap merupakan inisiatif Pemda Bantaeng yang belum dilakukan Kabupaten/Kota lainnya di Sulawesi Selatan, atau boleh jadi pertama di Indonesia.

MORE CONTACT INFORMATION
facebook twitter youtube
 
 
Download
9

BaKTI - 2011 Highlights (bahasa)

File size: 179 KB   |   Latest modified: 16 Feb 2012