Menjalankan proyek perintis dan mereplikasi
berbagai inisiatif pembangunan yang sesuai dengan daerahnya

Siapa yang tidak butuh air? Semua mahluk hidup butuh air untuk mempertahankan keberadaannya dan terus memperpanjang hidupnya. Meskipun air meliputi 70% dari permukaan bumi, kebanyakan darinya terlalu asin untuk diminum dan dimanfaatkan untuk kebutuhan lainnya. Ya, karena bumi tempat tinggal manusia dan mahluk hidup lainnya tiga per empat dari bagiannya ditutupi oleh lautan dan hanya satu per empat saja daratan. Uniknya angka tiga per empat juga adalah angka air tawar yang tersedia dan bisa diperoleh dari gunung es di kutub Utara dan kutub Selatan (dalam bentuk glasier - sungai es). Sisanya tersedia dalam bentuk air tanah, sungai, danau dan arus. Oleh karena itu bisa dibayangkan sulitnya mengakses air di beberapa tempat tertentu karena air sangat sulit didapatkan. Apalagi dengan isu perubahan iklim yang sekarang terjadi, keberadaan air semakin sulit dan menuntut manusia sebagai pengelola air dapat mengelolanya dengan baik dan teratur.
Hal itulah yang juga menjadi tantangan tersendiri di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Pemanfaatan lahan seluas 86.000 hektar, perkebunan, dan kehutanan sangat ditentukan oleh ketersediaan air hujan. Musim hujan kadangkala menimbulkan banjir yang menggagalkan panen persawahan, sedangkan musim kemarau menyebabkan hamparan lahan yang luas menjadi terlantar tanpa ditanami karena tidak tersedia air. Kurang lebih 80 persen (74 ribu ha) areal persawahan masih mengandalkan sawah tadah hujan sehingga produksi masih sangat terbatas (sekali setahun) bahkan ada yang hingga 4 tahun belum berproduksi karena curah hujan yang sangat rendah.
Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah kabupaten Wajo menggalakkan pembangunan kantor air, dengan istilah pembangunan Sejuta Kantong Air. Pembangunan sejuta kantong air dimaksudkan sebagai upaya untuk menampug air, baik air hujan maupun aliran permukaan dan air sungai atau air dalam melalui bantuan pompa. Volume daya tampung kantong air bervariasi dari ukuran kecil (lubang resapan biopori), ukuran sedang (embung, teppo, situ), dan ukuran besar (dam penahan, dam pengendali, cekdam, dan danau). Sumber air tampungan dapat berasal dari air hujan seperti Umpen, Teppo, Dam, Danau, lubang resapan biopori. Sedangkan yang berasal dari air sungai dengan bantuan pompa (kalobeng, embung atau situ). Begitu juga yang berasal dari dalam tanah melalui bantuan pompa.
Hal inilah yang digambarkan Asisten II Bidang Ekbang Kab. Wajo, Darwin A. Tjukke dan H.A Sederhana, Kadis Kehutanan dan Perkebunan Kab. Wajo di Acara Diskusi Inovasi Cerdas Program Sejuta Kantong Air Kab. Wajo yang diadakan tanggal 30 November lalu di di Kantor BaKTI, Jl. Dr. Soetomo No. 26, Makassar. Karena inovasinya, program ini sudah mendapat apresiasi dari FIPO di Otonomi Award tahun 2011. Mengusung tema event BaKTI ”Berbagi untuk Perubahan”, acara diskusi ini adalah hasil kerjasama antara BaKTI dengan FIPO dalam rangka mempromosikan dan berbagi Pengetahuan tentang praktik dan inovasi cerdas yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah.
Pembangunan sejuta kantong air dimaksudkan sebagai upaya untuk menampung air, baik air hujan maupun aliran permukaan dan air sungai atau air dalam melalui bantuan pompa. Menampung air hujan tentunya mengurangi aliran permukaan dan memperbanyak resapan air tanah. Pemerintah Kabupaten Wajo berkeyakinan bahwa pembangunan sejuta kantong air, sangat mendukung kesuksesan Sulsel Go Green, Surplus beras dua juta ton, satu juta setengah ton jagung dan sejuta ternak.
“Terdapat tujuh sungai besar yang melintasi Wajo, 14 sungai sedang, puluhan sungai-sungai kecil, 27 buah danau, serta puluhan ribu tanah siap gali,” sambung Pak Sederhana dalam penjelasannya kepada peserta diskusi dan Ahmad Syam dari FIPO sebagai moderator dalam acara diskusi. Munculnya ide Bupati Wajo membangun sejuta kantong air dilatar belakangi budaya masyarakat dahulu terutama raja-raja apabila mencari calon areal persawahan yang pertama dilihat adalah kemungkinan membangun umben atau Teppo yang selanjutnya oleh Belanda diberi nama Teppo Belanda dan Jepang bernama Teppo Nippong dan oleh Bupati Wajo, Drs. H. Andi Burhanuddin Unru, M.M diberi nama Kantong Air. Pemerintah Kabupaten Wajo berkeyakinan bahwa pembangunan sejuta kantong air, sangat mendukung kesuksesan Sulsel Go Green, Surplus beras dua juta ton, satu juta setengah ton jagung dan sejuta ternak. Namun diakui pembangunan kantong air saat ini terkendala kurangnya anggaran Kabupaten yang dapat dialokasikan untuk mempercepat kegiatan tersebut.
Prakarsa pemerintah Kabupaten juga mendapat dukungan yang penuh dari masyarakat. Bahkan masyarakat membuat kantong-kantong air sendiri. Selain itu, pemerintah Kabupaten Wajo memberikan bantuan berupa alat-alat berat dalam rangka menyemangati masyarakat untuk bisa mendukung program ini. Dari hal ini terjalin kemitraan yang baik antara pemerintah dan masyarakat.
Dari program ini sudah ada hasil yang bisa dipetik, berdasarkan data yang dikumpulkan FIPO, produksi beras Kabupaten Wajo meningkat, dari tahun 2009 yang menghasilkan 285rb ton menjadi 338rb ton tahun 2010.
© 2011 Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia

